8.1.1 Bentuk
Pembelajaran
Bahan ajar atau
materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka
mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci,
jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep,
prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
1. materi fakta adalah nama-nama obyek,
peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, dsb. (Ibu kota Negara RI
adalah Jakart; Negara RI merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945).
2. materi konsep adalah pengertian, definisi,
ciri khusus, komponen atau bagian suatu obyek (Contoh kursi adalah tempat duduk
berkaki empat, ada sandaran dan lengan-lengannya).
3. Materi jenis
prosedur adalah materi yang berkenaan dengan langkah-langkah secara sistematis
atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas.
4. Materi jenis sikap
(afektif) adalah materi yang berkenaan dengan sikap atau nilai, misalnya nilai
kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar, semangat
bekerja, dsb.Untuk membantu memudahkan memahami keempat jenis materi
pembelajaran aspek kognitif tersebut. Ditinjau dari pihak guru, materi
pembelajaran itu harus diajarkan atau disampaikan dalam kegiatan pembelajaran.
Berikut ini metode
metode pengajaran dalam proses belajar:
1. Metode
Konvensional/ metode ceramah
Metode pengajaran
dengan cara berceramah atau menyampaikan informasi secara lisan kepada siswa.
Metode ini merupakan metode yang paling praktis dan ekonomis, tidak membutuhkan
banyak alat bantu. Metode ini mampu digunakan untuk mengatasi kelangkaan
literatur atau sumber rujukan informasi karena daya beli siswa yang diluar
jangkauan. Namun metode ini juga memiliki beberapa kelemahan dan kelebihan.
A. Kekurangan metode
ceramah yaitu:
1. Siswa menjadi
pasif.
2. Proses belajar
membosankan dan siswa mengantuk.
3. Terdapat unsur
paksaan untuk mendengarkan.
4. Siswa dengan gaya
belajar visual akan bosan dan tidak dapat menerima informasia tau pengetahuan,
pada anak dengan gaya belajar auditori hal ini mungkin cukup menarik.
5. Evaluasi proses
belajar sulit dikontrol, karena tidak ada poin pencapaian yang jelas.
6. Proses pengajaran
menjadi verbalisme atau berfokus pada pengertian kata- kata saja.
B. Kelebihan dari
metode ini juga ada, antara lain:
1. Mendorong siswa
untuk menjadi lebih fokus.
2. Guru dapat
mengendalikan kelas secara penuh.
3. Guru dapat
menyampaikan pelajaran yang luas.
4. Dapat diikuti oleh
jumlah anak didik yang banyak.
5. Mudah
dilaksanakan.
2. Metode Diskusi
Metode diskusi
merupakan metode pengajaran yang erat hubungannya dengan belajar pemecahan
masalah. Metode ini juga biasa dilakukan secara berkelompok atau diskusi
kelompok.
A. Kelebihan metode
diskusi kelompok ini, sebagai berikut:
1. Memberikan
pemahaman pada anak didik bahwa setiap permasalahan pasti ada penyelesaiannya.
2. Siswa mampu
berfikir kritis.
3. Mendorong siswa
untuk dapat menyampaikan pendapatnya.
4. Mengambil satu
atau lebih alternatif pemecahan masalah.
5. Mendorong siswa
memberikan masukan untuk pemecahan masalah.
6. Siswa menjadi paham
tentang toleransi pendapat dan juga mendengarkan orang lain.
B. Kekurangan dari
metode diskusi ini yaitu sebagai berikut:
1. Cocok digunakan
untuk kelompok kecil.
2. Tema diskusi
terbatas.
3. Dikuasai oleh
orang orang yang suka berbicara.
4. Dibutuhkan
penyampaian secara formal dalam berpendapat.
3. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi
digunakan pada pengajaran dengan proses yaitu menggunakan benda atau bahan ajar
pada saat pengajaran. Bahan ajar akan memberikan pandangan secara nyata
terhadap apa yang akan dipelajari, bisa juga melalui bentuk praktikum. Metode
demonstrasi ini memiliki manfaat antara lain siswa jadi lebih tertarik dengan
apa yang diajarkan, siswa lebih fokus dan terarah pada materi, pengalaman
terhadap pengajaran lebih diingat dengan baik oleh siswa.
A. Kelebihan metode
demonstrasi ini, antara lain:
1. Siswa bisa
memahami secara lebih jelas tentang suatu proses atau cara kerja.
2. Penjelasan menjadi
lebih mudah dimengerti.
3. Meminimalisir
kesalahan dalam menyampaikan materi lisan, karena bukti konkret bisa dilihat.
B. Kekurangan dari
metode demonstrasi ini, yaitu:
1. Apabila benda yang
didemonstrasikan terlalu kecil, siswa kesulitan dalam mengamati.
2. Jumlah siswa yang
terlalu banyak dapat menghalangi pandangan siswa secara merata.
3. Tidak semua materi
bisa didemonstrasikan.
4. Memerlukan guru
yang benar- benar paham, agar bisa mendemonstrasikan dengan baik
4. Debat
Debat merupakan
metode pembelajaran dengan mengadu argumentadi antara dua pihak atau lebih baik
perorangan maupun kelompok. Argumentasi yang dilakukan membahas tentang
penyelesaian suatu permasalahan dan memberi keputusan terhadap masalah. Debat
pada umumnya dilakukan secara formal dengan bahasa bahasa formal dan cara cara
tertentu yang sopan. Terdapat aturan aturan dalam debat informasikan yang
disajikan harus memuat data yang relevan dan berisi.
A. Kelebihan metode
pembelajaran ini, yaitu:
1. Melatih kemampuan
berpendapat dan mempertahankan pendapat siswa.
2. Melatih kerja
kelompok.
3. Menuntut siswa
untuk mencari informasi yang kuat untuk argumentasinya.
4. Melatih rasa
percaya diri dalam berpendapat.
B. Kekurangan dalam
metode pembelajaran ini, adalah:
1. Seringkali justru
berebut dalam memberikan pendapat,
2. Pendapat tidak
memiliki intisari yang informatif dan hanya berisi sanggahan,
3. Adu argumen tidak
menemukan titik penyelesaian,
4. Siswa yang tidak
pandai berargumen akan cenderung pasif dan hanya orang orang tertentu saja yang
aktif berbicara.
5. Mind Mapping
Mind mapping adalah
metode belajar dengan menerapkan cara berfikir runtun terhadap suatu
permasalahan bagaimana bisa terjadi sampai pada penyelesaiannya. Pengajaran
melalui mind mapping disajikan dalam bentuk skema yang memiliki hubungan sebab
akibat dan saling berpengaruh. Metode belajar dengan mind mapping ini mampu
meningkatkan analisis dan berfikir kritis siswa sehingga memahami sesuatu secara
keseluruhan dari awal sampai akhir.
A. Kelebihan mind
mapping, antara lain:
1. Cara ini lebih
efektif dan efisien.
2. Ide ide baru bisa
muncul dengan menggambar diagram diagram.
3. Diagram yang
terbentuk bisa menjadi alur berfikir yang efektif dan bermanfaat untuk hal
lain.
B. Kekurangan dari
model mind mapping, adalah:
1. Hanya siswa yang
aktif yang mampu terlibat.
2. Memerlukan dasar
dengan banyak membaca sebelum membuat mapping.
3. Beberapa detail
informasi tidak masuk dalam mapping.
4. Orang lain mungkin
tidak dapat memahami mind mapping yang dibuat oleh orang lain karena hanya
berupa poin inti saja yang dituliskan.
5. Beberapa orang
kesulitan merangkai panah atau alur mind mapping dengan rapi, dan seringkali
mind mapping terkesan berantakan dan tidak dapat dipahami.
8.1.2 Pembelajaran Induktif
Pembelajaran induktif
adalah sebuah pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk
membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan
keterampilan berpikir kritis. Model pembelajaran induktif adalah sebuah
pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa
mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir
kritis. Pada model pembelajaran induktif guru langsung memberikan presentasi
informasi-informasi yang akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang
akan dipelajari siswa, selanjutnya guru membimbing siswa untuk menemukan
pola-pola tertentu dari ilustrasi-ilustrasi yang diberikan. Model pembelajaran
induktif dirancang berlandaskan teori konstruktivisme dalam belajar. Model ini
membutuhkan guru yang terampil dalam bertanya (questioning) dalam penerapannya.
Melalui pertanyaan-pertanyaan inilah guru akan membimbing siswa membangun
pemahaman terhadap materi pelajaran dengan cara berpikir dan membangun ide.
Tingkat keefektifan model pembelajaran induktif ini, jadinya-sangat tergantung
pada keterampilan guru dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran, dimana guru
harus menjadi pembimbing yang akan untuk membuat siswa berpikir.
Struktur sosial dalam pembelajaran menjadi ciri lingkungan kelas yang sangat dibutuhkan untuk belajar melalui model pembelajaran induktif. Model pembelajaran induktif mensyaratkan sebuah lingkungan belajar yang mana di dalamnya siswa merasa bebas dan terlepas dari resiko takut dan malu saat memberikan pendapat, bertanya, membuat konklusi dan jawaban. Mereka harus bebas dari kritik tajam yang dapat menjatuhkan semangat belajar.
Model ini dikembangkan atas dasar beberapa postulat sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir dapat diajarkan
2. Berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara individu dengan data. Artinya, dalam seting kelas, bahan-bahan ajar merupakan sarana bagi siswa untuk mengembangkan operasi kognitif tertentu.
Struktur sosial dalam pembelajaran menjadi ciri lingkungan kelas yang sangat dibutuhkan untuk belajar melalui model pembelajaran induktif. Model pembelajaran induktif mensyaratkan sebuah lingkungan belajar yang mana di dalamnya siswa merasa bebas dan terlepas dari resiko takut dan malu saat memberikan pendapat, bertanya, membuat konklusi dan jawaban. Mereka harus bebas dari kritik tajam yang dapat menjatuhkan semangat belajar.
Model ini dikembangkan atas dasar beberapa postulat sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir dapat diajarkan
2. Berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara individu dengan data. Artinya, dalam seting kelas, bahan-bahan ajar merupakan sarana bagi siswa untuk mengembangkan operasi kognitif tertentu.
Dalam seting
tersebut, dimana siswa belajar mengorganisasikan fakta ke dalam suatu sistem
konsep,yaitu:
· Saling menghubung-hubungkan data yang diperoleh satu
sama lain serta membuat kesimpulan berdasarkan hubungan-hubungan tersebut
· Menarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang telah
diketahuinya dalam rangka membangun hipotesis,dan
· Memprediksi dan menjelaskan suatu fenomena tertentu.
Guru, dalam hal ini, dapat membantu proses internalisasi dan konseptualisasi
berdasarkan informasi tersebut
3. Proses berpikir merupakan suatu urutan tahapan yang beraturan (lawful). Artinya, agar dapat menguasai keterampilan berpikir tertentu, prasyarat tertentu harus dikuasai terlebih dahulu, dan urutan tahapan ini tidak bisa dibalik. Oleh karenanya, konsep tahapan beraturan ini memerlukan strategi mengajar tertentu agar dapat mengendalikan tahapan-tahapan tersebut.
Berpikir induktif
melibatkan tiga tahapan yang dikembangkan tiga strategi cara mengajarkannya.
a. Konsep pembentukan
(belajar konsep)
Tahap ini mencakup tiga langkah utama: item daftar (lembar, konsep), kelompok barang yang sama secara bersama-sama, beserta label tersebut (dengan nama konsep).
Langkah-langkah :
1. Membuat daftar konsep
2. Pengelompokkan konsep berdasarkan karakteristik yang sama
3. Pemberian label atau kategorisasi
Tahap ini mencakup tiga langkah utama: item daftar (lembar, konsep), kelompok barang yang sama secara bersama-sama, beserta label tersebut (dengan nama konsep).
Langkah-langkah :
1. Membuat daftar konsep
2. Pengelompokkan konsep berdasarkan karakteristik yang sama
3. Pemberian label atau kategorisasi
b. Interpretasi data
Strategi
Keduanya merupakan cara mengajarkan bagaimana menginterpretasi dan menyimpulkan data. Sama halnya dengan strategi pertama (pembentukan konsep), cara ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu.
Langkah-langkah:
1. mengidentifikasi dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya.
2. menjelaskan dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya
3. Membuat kesimpulan
Keduanya merupakan cara mengajarkan bagaimana menginterpretasi dan menyimpulkan data. Sama halnya dengan strategi pertama (pembentukan konsep), cara ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu.
Langkah-langkah:
1. mengidentifikasi dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya.
2. menjelaskan dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya
3. Membuat kesimpulan
c. Penerapan
prinsip-prinsip
Strategi ini merupakan kelanjutan dari strategi pertama dan kedua. Setelah siswa dapat merumuskan suatu konsep, menginterpretasikan dan menyimpulkan data, selanjutnya mereka diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip tertentu ke dalam suatu situasi permasalahan yang berbeda. Atau siswa diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip untuk menjelaskan suatu fenomena baru.
Langkah-Langkah:
1. Membuat hipotesis, memprediksikonsekuensi
2. Menjelaskan teori yang mendukung hipotesis atau prediksi.
3. Menguji hipotesis/prediksi
Strategi ini merupakan kelanjutan dari strategi pertama dan kedua. Setelah siswa dapat merumuskan suatu konsep, menginterpretasikan dan menyimpulkan data, selanjutnya mereka diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip tertentu ke dalam suatu situasi permasalahan yang berbeda. Atau siswa diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip untuk menjelaskan suatu fenomena baru.
Langkah-Langkah:
1. Membuat hipotesis, memprediksikonsekuensi
2. Menjelaskan teori yang mendukung hipotesis atau prediksi.
3. Menguji hipotesis/prediksi
8.1.3 Pohon Keputusan
Pembelajaran (Decision Tree)
Pembejalaran pohon
keputusan adalah suatu metode untuk memperkirakan fungsi target bernilai
diskrit, yang mana fungsi pembelajaran direpresentasikan oleh sebuah pohon
keputusan. Secara umum, pohon keputusan merepresentasikan sebuah disjungsi dari
beberapa konjungsi dari beberapa batasan pada nilai atribut dan instansi.
Setiap path dari root
pada pohon sampai ke leaf merupakan konjungsi dari atribut pengujian, dan pohon
itu sendiri adalah sebuah disjungsi dari beberapa konjungsi tersebut. Sebagai
contohnya, pohon keputusan di atas berkorespondensi dengan ekspresi berikut,
(Outlook
= Sunny ^ Humidity = Normal)
v
(Outlook = Overcast)
v
(Outlook = Rain ^ Wind = Weak)
Permasalahan yang sesuai
untuk pembelajaran pohon keputusan
Secara umum
pembelajaran pohon keputusan cocok untuk permasalahan dengan karakteristik
sebagai berikut,
· Instansi (permasalahan) direpresentasikan dengan
pasangan atribut-nilai. Instansi ini dijelaskan dengan sejumlah atribut yang
tetap, misalnya atributTemperatur dengan nilai Panas,
Sedang, Dingin.
· Fungsi target memiliki nilai keluaran diskrit. Setiap
sampel memiliki klasifikasi binari atau lebih, misalnya Ya atau Tidak; namun
metode ini bisa dikembangkan dengan nilai keluaran yang lebih dari dua.
· Deskripsi disjungtif (pemisah) mungkin diperlukan.
· Data latihan bisa mengandung kesalahan. Metode
pembelajaran pohon keputusan bisa memiliki kesalahan, baik kesalahan dari
klasifikasi pada sampel pembelajaran dan kesalahan dalam nilai atribut dari
sampel.
· Data latihan bisa tidak memiliki nilai atribut.
Permasalahan
klasifikasi yaitu pekerjaan
mengklasifikasi sampel menjadi salah satu dari sekumpulan kemungkinan kategori
diskrit.
8.1.4 Pembelajaran
Ensemble
Metode ensemble
menggabungkan beberapa model, dalam penelitian ini adalah model klasifikasi,
untuk mendapatkan prediksi kinerja yang lebih baik daripada menggunakan satu
model saja. Langkah yang dilakukan adalah menghitung tingkat kemiripan antara
dokumen acuan dan dokumen testing yang diangap plagiat. Hasil dari serangkaian
similarity testing akan digunakan sebagai input untuk training dan validasi
terhadap model klasifikasi. Training dan validasi tersebut akan dilakukan
dengan menggunakan beberapa algoritma klasifikasi. Hasil dari beberapa
algoritma tersebut akan digabungkan dengan metoda ensemble untuk mendapatkan
kinerja yang lebih baik
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar